CATATAN RAIMUNA NASIONAL KE XII TAHUN 2023 “Lemah Kontrol, Pengelolaan Semrawut,Aplikasi Gagal dan Kegiatan Yang Membosankan”
- Kamis, 31 Agu 2023 09:23 WIB
- Umum
CATATAN RAIMUNA NASIONAL KE XII TAHUN 2023
“Lemah Kontrol, Pengelolaan Semrawut,Aplikasi Gagal dan Kegiatan Yang Membosankan”
Cibubur Jakarta – kemeriahan pelaksanaan Raimuna Nasional ke 12 tahun 2023 baru saja usai, di balik kesan “wah” dengan konsep yang dianggap “ kekinian” ternyata banyak memiliki catatan dari segala macam kegiatan yang digelar selama pelaksanaan Raimuna Nasional tahun ini.
Bahkan kegiatan Raimuna Nasional kali ini banjir keluhan dari peserta dan kegiatan yang digelar sangat membosankan, belum lagi beberapa kasus yang terjadi seperti kasus asusila.
Pada acara pembukaan masalah langsung timbul, peserta sejak pukul 13.00 WIB sudah diharuskan berkumpul di lapangan utama untuk persiapan upacara pembukaan dan peringatan hari Pramuka, padahal acara diagendakan pada pukul 16.00 WIB.
Untuk masuk ke lapangan utama, panitia hanya menyediakan dua gate untuk pemeriksaan atau screaning,padahal yang akan masuk ribuan peserta ke dalam lapangan, cuaca yang panas da peserta yang sudah antri berjam-jam akhirnya banyak yang pingsan bertumbangan ditengah-tengah antrian.
Aksi demonstrasi pun juga sempat terjadi, dimana peserta protes terhadap natura atau bahan makanan yang diterima, ada sebagian peserta yang tidak mendapatkan natura karena habis, selain itu natura yang diberikan pun jauh dari standar mutu yang baik, sehingga memicu aksi demontrasi dari peserta, padahal, natura seharusnya cukup untuk semua peserta karena semua telah terdaftar dan membayar saat dilakukan pendaftaran.
Menurut Sapto Susilo, Pembina Pendamping dari kontingen Kwartir Cabang Demak, Jawa Tengah (Jateng), bahan makanan yang diberikan kepada peserta ada yang busuk, tidak lengkap dan terlambat datang, bahkan banyak peserta yang terkena diare karena standar mutu makanan yang diterima tidak layak alias buruk, bahan makanan yang diterima peserta dan pembina pendamping tidak sesuai dengan biaya (camp fee) yang telah mereka bayar ke Kwarnas.
bentuk protes yang dialamatkan kepada panitia juga terjadi berupa aksi unjuk rasa sebagian peserta berlangsung di Perkemahan Putera IV (Kempa IV) pada Jumat (18/8/2023) malam di lokasi perkemahan.
Para peserta menempelkan kardus dengan tulisan: Kembang Api Diurus Natura Engga; Camp Fee Elit Natura Sulit; Gini Amat Jadi Peserta Rainas. Kemudian pada Instagram rainas12_memes, ada meme dengan gambar dan tulisan-tulisan: "Natura (No), Giat (No), Aplikasi (No), Konser (Yes), Gitu ya Mainnya." tulisan lainnya: "Kenapa anggota DKN mentingin kembang api dan konser dari pada natura ya."
Pada kegiatan wisata, peserta sudah harus berkumpul pada pukul 5.30 WIB di lapangan parkir, ternyata sejak pagi menunggu keberangkatan peserta molor 5 -6 jam, tidak hanya terlantar, waktu keberangkatan ternyata angkutan yang membawa peserta kurang, sehingga peserta yang tidak kebagian angkuta terpaksa harus bersabar lagi menunggu angkutan tambahan.
Menurut Sauqi salah satu peserta asal Padang Panjang Sumatera Barat,mereka sudah sejak pagi di lapangan parkir namun belum juga diberangkatkan hingga pukul 11.00 WIB, “ Kami terpaksa tidak mandi dan hanya sarapan di tenda sekedarnya saja karena takut terlambat, ternyata sampai siang belum juga diberangkatkan” ungkapnya dengan nada kesal.
Dan ini juga terjadi pada hari berikutnya, Yose Rizal pembina pendamping dari Padang Panjang Sumatera Barat sempat melayangkan protes terkait buruknya pengelolaan kegiatan, namun protes yang dilayangka seperti tidak dianggap bahkan terkesan tidak ada evaluasi kegiatan dari Dewan Kerja Nasional atau dari pihak Kwartir Nasional.
Belum lagi masalah di stand-stand pameran, petugas stand mengeluhkan konsumsi nasi kotak yang diberi panitia ternyata juga tidak layak dan basi, sehingga terbuang sia-sia, begitu juga yang diterima oleh pembina pendamping kontingen.
Purkon Sumantri yang pernah menjadi Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Bupati Perkemahan Raimuna Nasional 1997 di Cibubur, Jakarta Timur itu menduga, masalah natura muncul karena rendahnya nilai kontrak kepada vendor, tidak ada ahli gizi yang memeriksa kualitasnya dan lemahnya kontrol oleh Kwarnas.
Penggunan aplikasi pun bermasalah dan sangat lemah, baru dua hari berjalan aplikasi tidak bisa digunakan, dan terkesan aplikasi E-Rainas ini aplikasi yang gagal dan uji coba sekedarnya saja, sehingga saat digunakan banyak masalah yang timbul.
Belum lagi kegiatan yang dianggap membosankan, banyak di isi kegiatan ke stand pameran dan mendengarkan presentasi atau sosialisasi saja, sehingga kurang menarik.
Asweri salah satu pembina pendamping dari Sawahlunto Sumatera barat mengatakan ,Pada kegiatan Raimuna Nasional sebelum-sebelumnya, kegiatan –kegiatan sangat bervariatif dan menantang dan tidak lepas dari kePramukaan, kalau sekarang, kegiatan hanya sekedar kegiatan saja, yang katanya kekinian malah membosankan.
“ kegiatan Raimuna sekarang ini sangat membosankan, sangat jauh dengan kegiatan Raimuna sebelum-sebelumnya, tidak ada yang menantang, Cuma diisi dengan kunjungan ke stand kemudian mendengarkan presentasi” ungkap Weri.
Lemahnya pengamanan dilapangan mengakibatkan terjadi kasus pencurian barang berharga , yang memalukan lagi juga sempat terjadi pelecehan seksual terhadap salah satu anggota Penegak putri dari Saka bayangkara yang tengah bertugas, beruntung korban bisa melawan, dan pelaku juga turut diamankan.
Semrawutnya pelaksanaan Raimuna Nasional 2023 tidak lepas dari lemahnya perencanaan, dan tidak ada evaluasi menyeluruh di setiap akhir kegiatan, fungsi DKN pun banyak dipertanyakan kinerjanya. Se olah-olah bekerja tanpa konsep dan tidak melibatkan andalan-andalan yang memiliki kemampuan dan jejaring.
Wajar saja Raimuna Nasional 2023 ini banyak diwarnai aksi protes dari peserta, karena hak dan pelayanan yang diterima tidak sesuai dengan biaya yang sudah dikeluarkan peserta daerah.
Dengan banyaknya masalah yang terjadi pada Raimuna Nasional 2023 ini menjadi catatan tersendiri, diharapkan Kwarnas dan DKN bisa mengoreksi diri dan segera melakukan evaluasi total baik di kalangan internal maupun eksternal serta semua sistem, sehingga kedepannya bisa menjadi lebih baik lagi dan mengembalikan marwah kegiatan secara keseluruhan.
( Agung Sulistyo – Pusinfo KC 12 Padang Panjang)
Website Resmi Kwarcab 12 Padang Panjang